Go, Light The World!

Banyak orang bertanya, mengapa kita menggunakan tema ini sebagai tema Natal? Jawabannya hanya satu, bahwa memang sejak tahun 2014, dimana pada waktu itu gembala mendapatkan pernyataan Tuhan bahwa kita akan membangun kembali rumah kediaman Tuhan. Beranjak dari hal ini, kita terus melihat apa yang dimaksud dengan rumah Tuhan? Sejak itu, dalam setiap pengajaran di gereja, terus diajarkan bahwa gereja adalah keluarga.

Gereja adalah keluarga, sedangkan keluarga adalah tiang penopang dan dasar kebenaran kehidupan. Kita terus mengajarkan hal ini kepada jemaat Tuhan, bahwa pentingnya bergereja dan esensi dari gereja adalah keluarga. Karena Tuhan sendiri memperlihatkan kepada kita bahwa hukum yang digunakan dalam sebuah kehidupan bergereja ialah hukum yang sama, digunakan dalam sebuah keluarga/rumah tangga. Jadi ada dua institusi yang menggunakan konstitusi yang sama. Berdasarkan pemahaman seperti inilah, kita menata balik, mengelaborasi kembali (menata kembali – red) segala sesuatu yang berhubungan dengan kejemaatan.

Kita ajarkan kepada jemaat, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kita meletakan sebuah dasar, yang diambil dari Firman Tuhan yang diajarkan Rasul Paulus, yaitu I Tesalonika 2:11-12, yang berbunyi, “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.”

Bagaimana Harus Berdoa

Apa yang Rasul Paulus nasihatkan ini ialah supaya jemaat bersemangat dan menjalankan kehidupan dalam kehendak Allah, untuk menyatakan kerajaan Allah dalam kemuliaanNya. Kalimat ini, menurut pemahaman saya ialah menyangkut doa seperti yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-muridNya.

Ketika itu, murid-murid Tuhan bertanya kepadaNya, tentang bagaimana harus berdoa. Tuhan mengajarkan, bahwa jika kita mau berdoa, berdoalah kepada Bapa Sorgawi. Maksudnya, doa adalah membina hubungan kepada Bapa yang ada di Sorga yang kudus.

Ketika gambarNya dicetak kembali, maka kita akan menjadi serupa dan segambar dengan Allah. Kalau kita sudah menjadi serupa dan segambar dengan Allah, kita juga akan bercahaya, karena kita memantulkan cahaya Allah.

Inti doanya (isi atau kekuatan doanya) adalah, supaya KerajaanNya Datang, di Bumi, seperti di Sorga, atau istilah yang kami gunakan ialah “Heaven on Earth” (Surga di Bumi). Inilah isi doa Bapa Kami, yang juga merupakan kekuatan doanya. “Heaven on Earth” berbicara mengenai hubungan yang intim dengan Bapa Sorgawi, tetapi kekuatan doanya ialah datangnya kerajaanNya di Bumi.

Tuhan Menghendaki di Bumi Seperti di Sorga

Untuk apa Kerajaan Allah datang? KerajaanNya datang ke Bumi, supaya kehendak Bapa terjadi di Bumi, dalam kehidupan manusia ciptaanNya. Jadi kehendak Bapa ialah menjadi kan bumi, seperti di sorga. Tuhan menghendaki Bumi seperti di Sorga. Didalamnya baru ada, pernyataan kehendak Allah yang selaras dengan kebutuhan hidup keluarga itu, kedamaian dalam keluarga, kelegaan dalam keluarga, Dalam kelegaan tidak ada lagi permusuhan.

Kalimat “Tuhan menghendaki di Bumi, seperti di Sorga”, yang digunakan Rasul Paulus untuk mengajar pada jemaat Tesalonika, supaya mereka hidup dalam kehendak Allah. Sebenarnya, yang dimaksud Rasul Paulus adalah supaya keluarga kita hidup dalam nilai-nilai sorga. Keluarga dibangun dengan nilai-nilai sorgawi. Nilai-nilai Sorgawi itu adalah nilai-nilai kehendak Bapa. Dengan demikian, keluarga dengan nilai-nilai Sorgawi, akan menyatakan Kerajaan Allah.

Keluarga & Kerajaan Allah Tidak Dapat Dipisahkan

Keluarga dan kerajaan Allah, adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang tidak akan bisa melihat sebuah “Kerajaan”, tanpa melihat keluarga. Dimanapun dalam sebuah bangsa, jikalau bangsa itu adalah sebuah kerajaan dan baru merdeka, kerajaan itu pasti terbentuk dari keluarga dari Raja itu bukan? Seperti inilah kerajaan Allah, dan inilah yang diajarkan kepada jemaat. Tetapi kita jangan lupa, bahwa roh dari gereja yang dasarnya keluarga, sebenarnya adalah kumpulan dari unit keluarga-keluarga yang lebih kecil lagi.

Tahun 2016 ini, kita lebih masuk lagi kepada bukan saja gereja yang memiliki roh keluarga,tetapi juga keluarga yang sesungguhnya, yaitu keluarga secara biologis, termasuk kehidupan hubungan suami-istri, orangtua dan anak-anak. Dari hal ini, kita kembali kepada pelayanan kita mengenai pemulihan hati bapa, hati anak, pemulihan gambar diri, sampai terjadinya pemulihan sosial.

Mengapa seperti ini? Karena, di sebuah daerah, sebenarnya, tanpa kehadiran sebuah gereja, daerah itu masih bisa “hidup”, masih bisa utuh. Tapi daerah itu akan hancur, jika tidak ada yang namanya keluarga-keluarga disana. Jadi, munculnya gereja itu adalah sebagai contoh/model untuk pemulihan keluarga.

Kehidupan Awal Mula, Dimulai Dari Keluarga

Pada dasarnya, kali pertama Tuhan menciptakan bumi, dunia dan alam sekitarnya itu diserahkan kepada sebuah keluarga (Adam dan Hawa), yang memiliki gambaran Allah, untuk dipelihara. Artinya, Adam dan Hawa, menjadi sebuah keluarga dengan pikiran, perasaan, sikap dan perilaku Allah. Itulah yang disebut “segambar dengan Allah”. Dengan pikiran dan perasaan Allah, maka apa yang mereka lakukan, merupakan sifat dari Kerajaan Allah. Inilah keluarga pertama, yang dibangun oleh Allah, dengan pikiranNya, membangun kehidupan dan kehidupan yang dibangun, membuat sebuah komunitas yang disebut kerajaan dengan konsep pikiran Allah.

Kehidupan mereka di taman Eden itu, seperti di sorga, tentunya sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Masuknya iblis, keluarga baru jatuh. Iblis datang untuk merusak dan menghancurkan keluarga. Dia bermaksud untuk menghancurkan hubungan suami-istri (Adam dan Hawa), yang dimulai dari pemutaran balik hubungan manusia dengan Allah, sehingga manusai melanggar firman-Nya.

Dari situlah, pikiran Allah yang tadinya ada dalam manusia mulai tersobek dean masuklah dosa dari sobekan itu. Itu berarti kerajaan (keluarga) yang dibangun, sudah tercemarkan. Akibatnya kehidupan Adam dan Hawa mulai timbul benih konflik. Hal ini terlihat dari komunikasi antara Tuhan dengan Adam dan Hawa, dimana manusia sudah saling menyalahkan. Ketika Tuhan datang, manusia bersembunyi. Apakah Tuhan tidak tahu? Tentu Tuhan tahu, karena Dia maha tahu. Tetapi Allah tetap bertanya kepada manusia, “Dimanakah engkau?” bukan karena Allah tidak tahu dimana manusia ketika itu, tetapi sebenarnya Allah bertanya demikian, “Kamu tahu gak, kamu ada dimana?”

Kecenderungan manusia ialah tidak mengetahui bagaimana dan dimana keberadaannya, tidak tahu kesalahannya dan tidak tahu siapa dirinya. Lebih mudah manusia tahu akan orang lain dari pada dirinya sendiri. Itulah sebabnnya, Adam menyalahkan Hawa, demikian pula sebaliknya. Mereka lupa bahwa mereka sesungguhnya adalah pemimpin di taman Eden, pada saat itu. Singkatnya keluarga Adam dan Hawa, hancur dan terus terbawa sampai keluarga-keluarga masa kini.

Gereja Adalah Keluarga

Yesus datang dan membangun gerejaNya. Gereja yang dimaksud itu ialah para keluarga yang tadinya hancur, lalu dipulikanNya kembali. Tuhan telah menciptakan manusia sesuai standarNya, maka manusia (keluarga) itu, perlu dipulihkan lagi, dengan standar GerejaNya. Tuhan memanggil manusia, bukan untuk menciptakannya lagi, tetapi hendak membangun manusia kembali dan memulihkan kembali keluarga-keluarga biologis, sesuai dengan Gambar gereja, karena gereja memiliki Roh Tuhan. Itulah sebabnya, akhir-akhir ini, Tuhan sedang memulihkan gerejaNya sesuai dengan gambarNya, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Allah.

Tahun 2016 ini, gereja itu menerima mandat Tuhan untuk memulihkan semua keluarga biologis dengan standar gambar gereja. Inilah yang sedang kita kerjakan dan ajarkan kepada jemaat, selama satu tahun ini. Inti kotbah gembala selama setahun ini, selalu berbicara tentang keluarga (hubungan suami-istri). Diawal tahun, kita mulai dengan membahas tentang “Perdamaian”, yaitu damai dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama. Kemudian kita juga mengadakan retreat dan pembahasan pengajaran tentang “Mujiizat Dalam Pernikahan”.

Terbentuknya sebuah keluarga karena hasil dari sebuah pernikahan. Pernikahan itu, tidak pernah salah, karena pernikahan adalah idenya Tuhan, ada spirit dan kuasaNya dalam sebuah pernikahan. Siapapun orangnya, ketika dia mengakui bahwa dia perlu menikah, tanpa disadarinya, dia telah masuk dalam sebuah perjanjian dengan Tuhan, yang disebut Perjanjian Abadi. Dibalik Perjanjian Abadi ini, ada yang disebut Berkat Kehidupan Abadi. Namun sayangnya, mereka yang tahu akan Perjanjian Abadi itu, tanpa pengenalan yang benar terhadap Tuhan dan Perjanjian Abadi tersebut, sehingg mereka tidak memperoleh Berkat Kehidupan Abadi.

Perjanjian & Berkat Abadi

Berkat Kehidupan Abadi, akan seturut dengan kehidupan kekal yang diperoleh orang tersebut. Maka perjalanan hidupnya, segala eksistensinya, segala aspek kehidupannya, selalu dinilai dengan nilai yang abadi.

Tuhan terus bergerak dalam gerejaNya dan kita terus mengajarkan bahwa gereja memiiki mandat atas pemulihan keluarga. Manakala ketika keluarga menghadapi persoalan dalam hidup, doa memang penting dan harus tetap dilakukan karena itu panggilan utama selain berusaha. Kalau hanya doa saja, tapi tanpa usaha, juga sia-sia. Usaha manusia dalam pemulihan keluarga ialah meletakan kembali pada posisinya.

Tuhan Datang Ke RumahNya

Nilai-nilai pernikahan, adalah nilai-nilai kehendak Allah, yang mendatangkan Sorga di Bumi. Ini membawa kita mengalami hidup dalam kedamaian, kelegaan dan kelimpahan. Kehidupan berkeluarga harus mendapatkan hal-hal ini. Jika keluarga seperti ini yang dibangun, sangatlah luar biasa. Dalam nilai-nilai pernikahan, harus dialiri kasih Tuhan. Kasih adalah sama dengan Tuhan sendiri. Jika Kasih mengalir, berarti mengalirlah Tuhan.

Jika Tuhan datang ke rumah-Nya, maka kita harus menyambut kedatangan-Nya dengan menggelar “karpet merah”. Yaitu kasih. Bagaimaan kasih dapat bertumbuh? Keluarga yang menjadi rumahnya Tuhan harus menyiapkan komponen-komponen rumah Tuhan. Bagaimana kasih bisa mengalir? Komponen yang dibutuhkan yaitu pengenalan satu sama lain dalam keluarga itu, melalui komunikasi yang harmonis. Ini yang sering disebut kasih mula-mula dalam membangun keluarga itu.

Komunikasi yang benar dalam keluarga, akan menumbuhkan pengenalan satu sama lainnya. Komunikasi yang seirama dan harmonis akan membuka hati dari anggota-anggota keluarga. Keterbukaan hati akan membuat kita saling mengenal. Ketika kita bisa mengenal satu sama lain, tumbuhlah kasih. Dengan tumbuhnya kasih, Tuhan akan masuk dalam keluarga. Ketika Tuhan masuk, komitmen perjanjian abadi akan dinyatakan dalam keluarga itu. Perjanjian abadi ini akan membuat hubungan kepada Tuhan dan sosial menjadi baik.

Ketika kita melihat kepada hal-hal sosial, kita akan memiliki hasrat untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tinbulan tanggungjawab dalam pernikahan.

2017: Go,Light The World!

Pada Tahun 2017, dengan hadirnya Tuhan dalam rumah-Nya (keluarga), tumbuhlah perjanjian abadi. Ditahun 2017, perjanjian abadi ini sudah dinyatakan, supaya hal ini menjadi saksi bagi bangsa-bangsa. Itulah sebabnya, tema besar kita ditahun 2017 adalah Go, Light The World! Penentunya adalah di Natal 2016, dimana Tuhan masuk ke rumahNya (keluarga). Untuk itu, kita harus menjaga keutuhan perjanjian abadi ini dan tanggungjawab. Itu semua dari keluarga, dimana kasih Allah mengalir karena pengenalan dari komunikasi yang baik.

Jadi urutannya seperti ini, dimulai dari komunikasi yang baik yang membuka hati, terjadilah pengenalan dan tumbuhlah kasih. Dari kasih, tumbuhlah perjanjian abadi dan dari perjanjian abadi, tumbuhlah tanggungjawab. Ketika kita bertanggungjawab, maka kasih mengalir, disertai karunia-karunia. Inilah yang disebut kasih karunia. Karunia-karunia dalam pelayanan, dalam bisnis, dalam semua bagian kehidupan, dinyatakan.

Tahun 2017, akan muncul orang-orang yang berkarunia. Bagaimana kita bisa “Light The World”, jika tidak memiliki karunia? Karunia-karunia baru akan bermunculan dan memberkati dunia. Jika seseorang yang tidak bisa melakukan sebuah usaha, tiba-tiba dia bisa berusaha, dunia diberkati dengan usahanya tersebut. Inilah yang Tuhan mau dan ditaruh dalam hati gembala. Ditahun 2017, inilah yang akan terjadi. Istilah “Go,Light The World!” bukan hanya sekedar slogan saja.

Kalimat ini merupakan sebuah perintah yang harus dilakukan oleh semua orang percaya. Kita diperintahkan Tuhan untuk menjadi terang bagi dunia ini. Mari kita renungkan bersama

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak akan menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan semua orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga“.

- Injil Matius 5:14-16.

Fungsi Gereja adalah Menjadi Terang bagi Dunia

Apa pesan firman yang disampaikan kepada kita? Apa yang ingin dikatakan Yesus kepada kita? Ketika anda mendengarkan sabda Tuhan, dapatkah anda melihat kekayaan rohani yang ada di dalamnya? Betapa dalam dan banyaknya kekayaan yang terkandung di dalam firman Tuhan. Hari ini kita berbicara tentang menjadi terang bagi dunia.

Yesus berkata bahwa kita sebagai orang Kristen mempunyai fungsi yang sangat luar biasa, yaitu menjadi terang kepada dunia ini. Saya bertanya-tanya, apa artinya kalimat ini bagi anda? Pandanglah gereja saat ini dan tanyalah pada diri anda sendiri, “Apakah gereja menyerupai terang dunia?” Apa telah terjadi dengan gereja? Salah apakah dengan gereja?

Yesus berkata, “Kita! Kita! Kita semua yang disebut murid-murid Kristus, orang-orang Kristen, kitalah terang! Dan bukan hanya bagi gereja, tetapi terang bagi dunia! Tuhan telah memberikan kita sebuah tugas untuk dikerjakan, sebuah misi yang hebat untuk diselesaikan. Biarlah terang Allah bersinar ke dalam dunia! Betapa luhurnya misi ini! Betapa besarnya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita! Yesus tidak pernah berkata bahwa ada banyak terang di dunia ini. Dia berkata, “Kamulah terang”. Bentuk tunggal – satu-satunya terang. Jika satu-satunya terang yang ada tidak bersinar, dari manakah dunia memperoleh terangnya? Jika terang itu tidak datang dari padamu, atau dari kita sebagai sebuah gereja, lalu dari manakah terang itu berasal? Bagaimanakah orang lain dapat mengenal Tuhan?

Menghadapi Hukuman Tuhan atau Mencolok Sebagai Terang dalam Kegelapan?

Dulu di tempat tingga kami banyak mengalami putus listrik. Hal ini sudah menjadi satu reputasi di daerah kami ini. Bayangkan, anda asyik melakukan kegiatan seharian dan tiba-tiba semua lampu padam! Anda berada dalam kegelapan sambil meraba-raba mencari lilin. Pikirkan sejenak: Bagaimana anda mendapat terang? Kita mendapat terang bila ada kuasa – tenaga listrik adalah kuasa. Menurut saya, secara rohani gereja telah mengalami putus listrik yang luar biasa. Terang gereja tidak bersinar dan dunia berada dalam kegelapan.

Allah akan menuntut pertanggungjawaban dari gereja. Pada Hari itu Dia akan berkata, “Aku mengutus kamu sebagai terang kepada dunia, namun dunia berada dalam kegelapan.” Saya berpikir bahwa penghakiman akan lebih mengerikan bagi gereja dari pada bagi orang yang tidak percaya karena sebelumnya mereka belum pernah melihat terang. Mereka masih ada alasan. Alasan apakah yang dapat ditawarkan oleh gereja? Jika anda berada dalam gereja Tuhan dan anda tidak memancarkan terang, maka lebih baik anda jangan muncul di hari penghakiman. Tidak tahu bagaimana caranya anda dapat menghindar dari penghakiman itu. Karena Allah akan menuntut pertanggungjawaban dari anda! Dan Allah berkata kepada Yehezkiel, “Jika kamu tidak mengingatkan umat ini dan jika mereka binasa, maka Aku akan menuntut pertanggungjawaban dari kamu. Jika kamu mengingatkan mereka dan mereka binasa, maka tanggung jawab kamu sudah selesai.” Namun gereja selama ini berada dalam kegelapan dari pada dalam terang. Dan telah tibalah saatnya untuk kita menangis supaya Tuhan menjadikan kita terang. “Kepada siapa yang banyak diberikan, banyak yang akan dituntut.” Dan banyak telah diberikan kepada gereja (orang-orang percaya).

Terang Menerangi Kegelapan

Yang diperlukan gereja saat ini bukanlah kata-kata yang menghiburkan. Yang diperlukan adalah sabda mengenai penghakiman. Gereja menjadi lemah, korup, penuh dosa dan buruk diberbagai tempat. Dan orang-orang yang berada di dalam gereja berkata, “Berikanlah kami sabda yang menyejukkan!”

Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, dikatakan bahwa para nabi palsu datang dan berkata, ”Damai sejahtera, damai sejahtera!’, tetapi tidak ada damai sejahtera.” (Yeremia 6:14 & 8:11). Namun para nabi yang benar dalam Perjanjian Lama memarahi Israel siang dan malam, hingga orang-orang membenci mereka. Umat Israel berkata kepada para nabi yang benar, “Mengapa pesan kamu begitu keras?” Mereka menyeret Yeremia dan melemparkannya ke dalam sebuah perigi dan berharap agar ia mati disana karena mereka tidak menyukai pesannya; dimana dia memarahi mereka siang dan malam. Akan tetapi sabdanya itu adalah kebenaran. Mereka bertanya kepadanya, “Mengapa kau tidak mewartakan kepada kami sabda yang menghiburkan?” Bereskanlah dulu hubungan dengan Allah dan penghiburan akan menjadi milik anda!

Terang adalah Mutlak/Total

Ketika Kitab Wahyu menyatakan bahwa orang-orang akan memanggil gunung-gunung dan batu-batu karang untuk runtuh dan menyembunyikan mereka, kebanyakan penafsir Alkitab mengatakan bahwa orang-orang tersebut merujuk kepada orang-orang tak percaya. Oh, ya? Tentu saja mungkin terdapat orang-orang tak percaya. Namun aku berkata kepadamu, mereka yang memanggil gunung-gunung untuk menyembunyikan mereka pada hari itu, sebagian besar terdiri dari orang-orang Kristen – mereka yang disebut orang-orang Kristen.

Tahukah anda bahwa mereka belum pernah mendengarkan ajaran seperti ini? Mereka sangat heran. Mereka menjadi takjub. Dan mereka bertanya, “Apa yang dimaksudkan dengan orang Kristen yang total?” seolah-olah mereka belum pernah mendengarkannya. Hanya ada satu jenis orang Kristen, yakni orang Kristen yang total. Alkitab tidak mengenal adanya jenis atau tipe orang Kristen yang lain.

Catatlah bahwa terang adalah sesuatu yang total/sempurna! Pandanglah terang itu. Apakah ada secercah kegelapan yang ada di sana? Terang itu adalah benar-benar terang, atau tidak ada terang sama sekali, yaitu kegelapan! Tidak ada yang setengah terang. Dan apakah anda dapat memotong cahaya lilin menjadi separuh-separuh, atau seperempat saja dari cahaya lilin itu? Atau sebuah bola lampu yang sedang menyala, dapatkah anda memotong sebagian dari cahaya bola lampu itu? Potonglah bola lampu itu menjadi dua bagian dan perhatikan apakah berhasil atau tidak. Terang bercahaya atau tidak bercahaya; tidak ada yang bercahaya disini sedikit, disana sedikit. Kita harus mengerti hal ini dengan jelas. Jika Allah bukan Tuhan dari segala sesuatu, maka Dia bukanlah Tuhan sama sekali. Tuhan tidak mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah. Segala sesuatu atau tidak sama sekali. Itulah jalannya. Bukalah dan bacalah Alkitab anda, renungkan.

Terang itu harus Dinyatakan dalam Hidup kita

Marilah kita baca Efesus pasal 5. Paulus berkata kepada jemaat di Efesus dalam suratnya di pasal 5 ayat 8 yang berbunyi: “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” “Dahulu kamu adalah kegelapan”, katanya kepada orang-orang Kristen di Efesus, “tetapi sekarang kamu adalah terang.” Paulus tidak berkata, “Kamu sekarang telah menjadi lebih terang dari pada sebelumnya. Kamu sudah agak lebih etis, lebih bermoral; dan lebih menyenangkan; dan kamu sudah menjadi semakin sopan.” Paulus tidak menyinggung tentang aspek luar (lahiriah) dari tingkah laku mereka; tetapi ia berbicara mengenai aspek dalam (batiniah) dari seseorang. Secara batiniah, dahulu kamu adalah kegelapan! Seluruh karakter kamu adalah kegelapan, “namun sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan”

Baiklah, mari kita membaca seluruh isi teks tersebut untuk menemukan hubungannya. Efesus 5:1 berbunyi: “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah.” Ayat ini sangat relevan dengan ayat yang telah kita dengar tadi, karena Allah adalah terang, dan kita dipanggil untuk menjadi terang. Dan I Yohanes 1:5 mengatakan: “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” Dan Yesus juga berkata: “….kamu adalah terang” Ketika kita menjadi ciptaan baru, yakni ketika kita dilahirkan kembali, kita menjadi serupa dengan Dia. Dengan demikian, kita menjadi penurut-penurut Allah. “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan dirinya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5 : 1 – 2).

Namun ingat bahwa: “percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan – cinta akan uang – disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang kudus.” (ayat 3). Namun, saya mendengar bahwa semua hal itu disebut dan terjadi di antara orang Kristen. Paulus mengatakan bahwa hal-hal tersebut disebut saja pun jangan di antara kamu. Dan dalam ayat yang ke-4 dikatakan: “Demikian pula perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono, karena hal-hal ini tidak pantas, tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Dan pada ayat yang ke-5 pun dimulai dengan perkataan: “Karena itu, ingatlah ini baik-baik.”

Saya ingin menekankan perkataan-perkataan Paulus ini. Jika anda mengatakan bahwa keselamatan itu bukanlah berlandaskan perbuatan, baiklah, namun pastikanlah bahwa perbuatan-perbuatanmu adalah perbuatan terang, karena perbuatan-perbuatan itu akan menentukan siapa anda sebenarnya. Janganlah beranggapan bahwa karena keselamatan itu bukan berdasarkan perbuatan, maka bukanlah suatu masalah jika anda berdosa. Jika anda berbuat cabul atau berzinah, jika anda mencuri atau merampok, jika anda menipu atau bersaksi dusta, janganlah beranggapan bahwa anda tetap akan diselamatkan karena anda percaya kepada Yesus. Sekali-kali jangan anda beranggapan demikian! Anda berbuat dosa dan anda sudah selesai, kecuali anda segera bertobat atas perbuatan anda itu dan berjanji bahwa hal tersebut tidak akan terulang lagi. Dan juga bersiap-siaplah untuk menghadapi hukuman dan penghajaran dari Tuhan atas diri anda. Percayalah, bahwa Allah akan mengampuni, namun Dia juga akan menghajar anda. Janganlah berani berbuat dosa, meskipun dosa yang ringan di dalam gereja! Sebab Gereja seharusnya menjadi terang di dalam dunia.

Jadi kita membaca hal ini dalam Efesius 5:5: “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam kerajaan Kristus dan Allah.” Dan ayat ke-6 berbunyi: “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal–hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” Jangan biarkan seorangpun menyesatkan anda dengan berkata, “Sebagai orang Kristen, tidak apa-apa jika anda berdosa, karena keselamatan bukanlah suatu usaha. Kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman. Jadi bukanlah persoalan jika kita berzinah atau berbuat cabul, atau mencuri atau merampok atau apa saja. Tidak apa-apa karena kita diselamatkan oleh kasih karunia.” Paulus berkata, “Jangan biarkan seorangpun menipu dan mengatakan kata-kata hampa dan palsu kepadamu.” Kita berurusan dengan Allah yang hidup dan Dialah api yang menghanguskan. Penulis surat kepada umat Ibrani mengingatkan kita supaya tidak bersenda-gurau dengan Allah yang hidup. Jika kita ingin bersenda-gurau, maka sebaiknya bersenda-guraulah di tempat yang lain, dan bukan dengan Allah, karena Dia adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12 : 29). Anda tidak akan diselamatkan oleh iman karena kasih karunia, jika anda ingin menjadi orang yang tak bermoral. Paulus menyatakan bahwa orang-orang seperti ini tidak ada tempat dalam kerajaan Allah.

Efesus 5:7 mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Orang-orang yang demikan adalah orang-orang yang tak bermoral dan tidak murni – dan jika mereka menyebut diri mereka sebagai orang Kristen – janganlah bergaul dengan mereka. Kita sedang berjuang untuk menyatakan terang di tengah-tengah dunia, memasyhurkan nama baik Kristus, dan memelihara nama baik Injil. Jadi janganlah bergaul dengan orang-orang demikian.

Sekarang , marilah kita menikmati kekayaan yang ada dalam firman Tuhan. Disini mempunyai begitu banyak halaman catatan, dan menjadi suatu masalah untuk mengetahui bagaimana menyampaikan semua ini, tetapi saya hanya mau membagikan beberapa poin utama. Kita sudah melihat bahwa terang itu mencolok dari kegelapan. Kita ketahui juga bahwa terang itu menelanjangi kegelapan, sebagaimana para nabi menelanjangi dosa umat Israel, sehingga para nabi tersebut sangat dibenci. Orang Kristen sejati adalah orang-orang yang tidak terlalu disukai oleh orang-orang yang dosanya ditelanjangi.

Terang Mengatasi Kegelapan

Yang ketiga, ada suatu hal lain yang perlu kita ketahui. Yaitu: terang mengatasi kegelapan. Kegelapan tidak dapat menang! Anda menyalakan lampu dan kegelapan akan hilang begitu saja. Kegelapan tidak dapat menahan dan mengalahkan terang. Entah kegelapan menyukai terang atau tidak, terang tetap menembus kegelapan. Dengan demikian, terang dan kesaksian orang Kristen harus mampu menembus dan mengatasi kegelapan.

Orang Kristen harus mencolok seperti terang, sehingga kegelapan benar-benar mengambil perhatian. Kita harus menonjol di dalam generasi ini sebagai suatu umat yang berbeda. Orang-orang yang tinggal bersama anda, apakah mereka memperhatikan sesuatu yang berbeda dengan kehidupan anda? Jika tidak, maka ada sesuatu yang tidak beres mengenai kehidupan anda. Mereka seharusnya memperhatikan bahwa anda menonjol berbeda dari yang lain.

Oleh karena itu, mulai tahun 2017 ini, marilah kita menjadi terang yang benar-benar TERANG bagi dunia ini, bersiaplah!

- Penulis: Yakobus Edy. Narasumber: Pdt. Markus Tonny Hidayat